Dua orang bisa memiliki jumlah uang yang sama, tetapi membutuhkan portofolio yang sangat berbeda.
Ini karena investasi bukan hanya soal berapa banyak uang yang kita punya.
Yang jauh lebih penting adalah untuk apa uang tersebut digunakan, kapan akan digunakan, dan seberapa besar risiko yang mampu kita tanggung.
Karena itu, tidak ada satu komposisi portofolio yang cocok untuk semua orang.
Portofolio bukan sekadar kumpulan produk
Portofolio sering dipahami sebagai kumpulan saham, reksa dana, obligasi, atau instrumen investasi lainnya.
Padahal, portofolio seharusnya merupakan susunan aset yang dibuat untuk mencapai tujuan tertentu.
Artinya, kita tidak seharusnya bertanya:
“Portofolio terbaik itu seperti apa?”
Pertanyaan yang lebih tepat adalah:
“Portofolio seperti apa yang sesuai dengan tujuan saya?”
Perbedaannya terlihat sederhana, tetapi dampaknya besar terhadap keputusan investasi.
Tujuan menentukan arah portofolio
Bayangkan dua investor.
Investor pertama sedang menyiapkan dana pensiun yang baru akan digunakan 20 tahun lagi.
Investor kedua sedang menyiapkan uang muka rumah yang akan digunakan dua tahun lagi.
Keduanya mungkin memiliki penghasilan dan jumlah investasi yang sama.
Tetapi strategi investasinya tidak harus sama.
Investor pertama memiliki waktu yang lebih panjang untuk menghadapi fluktuasi pasar.
Investor kedua memiliki batas waktu yang lebih dekat sehingga stabilitas dana menjadi lebih penting.
Tujuan yang berbeda menghasilkan kebutuhan portofolio yang berbeda.
Jangka waktu memengaruhi tingkat risiko
Semakin dekat uang akan digunakan, semakin sedikit ruang untuk mengambil risiko yang dapat mengganggu tujuan tersebut.
Sebaliknya, tujuan jangka panjang memberikan ruang lebih besar untuk menghadapi volatilitas.
Namun, ini bukan berarti investasi jangka panjang bebas risiko.
Harga aset tetap dapat turun.
Yang berbeda adalah waktu yang tersedia untuk menghadapi dan mengelola penurunan tersebut.
Karena itu, menentukan alokasi aset sebaiknya selalu dimulai dengan melihat kapan dana tersebut akan digunakan.
Kondisi keuangan juga penting
Portofolio tidak berdiri sendiri.
Kita perlu melihat kondisi keuangan secara keseluruhan.
Apakah sudah memiliki dana darurat?
Bagaimana kondisi utang?
Seberapa stabil penghasilan?
Apakah masih memiliki kebutuhan besar dalam beberapa tahun ke depan?
Investor dengan kondisi keuangan yang berbeda dapat memiliki kemampuan mengambil risiko yang berbeda pula.
Seseorang dengan arus kas yang stabil dan dana darurat yang memadai mungkin memiliki ruang yang lebih besar untuk menghadapi fluktuasi dibandingkan seseorang yang masih memiliki kebutuhan finansial mendesak.
Jangan meniru portofolio orang lain
Ini salah satu jebakan yang paling mudah terjadi.
Kita melihat seseorang mendapatkan hasil investasi yang bagus, kemudian ingin meniru isi portofolionya.
Masalahnya, kita hanya melihat hasil akhirnya.
Kita tidak melihat tujuan orang tersebut, kondisi keuangannya, jangka waktunya, maupun seberapa besar kerugian yang mampu dia tanggung.
Portofolio yang nyaman bagi orang lain bisa menjadi sumber tekanan bagi kita.
Karena itu:
Jangan meniru portofolio. Pahami prinsip di balik penyusunannya.
Diversifikasi bukan berarti membeli semuanya
Diversifikasi sering disalahartikan sebagai memiliki sebanyak mungkin instrumen.
Padahal, tujuan diversifikasi adalah mengelola risiko dengan menyebarkan investasi pada aset yang memiliki karakteristik berbeda.
Memiliki sepuluh saham yang bergerak sangat mirip belum tentu memberikan diversifikasi yang berarti.
Sebaliknya, kombinasi beberapa kelas aset yang memiliki karakteristik berbeda dapat memberikan struktur portofolio yang lebih seimbang.
Jadi pertanyaannya bukan:
“Berapa banyak produk yang saya punya?”
Tetapi:
“Risiko apa saja yang ada di dalam portofolio saya?”
Portofolio perlu dievaluasi
Setelah portofolio dibuat, pekerjaan belum selesai.
Kondisi seseorang bisa berubah.
Penghasilan bisa berubah. Tujuan keuangan bisa berubah. Jangka waktu bisa semakin pendek. Toleransi terhadap risiko juga bisa berubah.
Karena itu, portofolio perlu ditinjau secara berkala.
Bukan berarti harus terus-menerus membeli dan menjual.
Evaluasi justru bertujuan memastikan bahwa portofolio masih sesuai dengan tujuan awal.
Jika alokasi aset sudah terlalu jauh dari rencana, rebalancing dapat menjadi salah satu cara untuk mengembalikannya ke komposisi yang diinginkan.
Tiga hal yang harus menjadi dasar
Sebelum menyusun portofolio, setidaknya pahami tiga hal:
1. Tujuan
Apa yang ingin dicapai dengan uang tersebut?
2. Jangka waktu
Kapan uang tersebut akan digunakan?
3. Risiko
Berapa besar penurunan yang secara finansial dan psikologis masih bisa ditanggung?
Ketiga hal ini menjadi dasar sebelum memilih instrumen.
Bukan sebaliknya.
Penutup
Portofolio yang baik bukan portofolio yang paling banyak menghasilkan keuntungan.
Portofolio yang baik adalah portofolio yang sesuai dengan tujuan dan mampu dijalankan secara konsisten.
Karena setiap orang memiliki tujuan, kondisi keuangan, dan jangka waktu yang berbeda, maka portofolionya pun wajar jika berbeda.
Tidak perlu mencari portofolio milik orang lain. Bangun portofolio yang masuk akal untuk tujuan Anda sendiri.

