Cara Menentukan Profil Risiko Sebelum Berinvestasi

Berani mengambil risiko tidak selalu berarti siap menanggung risiko.

Ini salah satu hal yang sering disalahpahami ketika seseorang mulai berinvestasi.

Ada orang yang merasa dirinya agresif karena tidak masalah melihat harga saham turun. Tetapi ketika portofolionya benar-benar turun 20%, keputusan yang diambil justru panik dan menjual.

Karena itu, profil risiko sebaiknya tidak ditentukan hanya dengan pertanyaan:

“Saya berani rugi berapa?”

Ada beberapa faktor lain yang perlu dipertimbangkan.

Apa itu profil risiko?

Profil risiko adalah gambaran mengenai seberapa besar risiko yang sesuai dengan kondisi dan kemampuan seseorang dalam berinvestasi.

Profil ini bukan label permanen seperti “konservatif”, “moderat”, atau “agresif” yang berlaku untuk semua situasi.

Seseorang bisa memiliki toleransi risiko yang tinggi, tetapi belum tentu memiliki kemampuan mengambil risiko yang sama tingginya.

Di sinilah pentingnya membedakan antara kemampuan dan kenyamanan terhadap risiko.

1. Lihat kondisi keuangan terlebih dahulu

Sebelum menentukan profil risiko investasi, lihat kondisi keuangan secara keseluruhan.

Apakah kebutuhan sehari-hari sudah aman?

Apakah memiliki dana darurat?

Apakah ada utang dengan bunga tinggi yang perlu diselesaikan?

Investasi seharusnya tidak membuat kebutuhan dasar menjadi terganggu.

Jika uang yang diinvestasikan sebenarnya akan dibutuhkan dalam waktu dekat, maka kemampuan mengambil risiko menjadi lebih terbatas.

2. Tentukan tujuan investasi

Profil risiko juga harus dilihat bersama tujuan.

Misalnya, Anda memiliki uang yang akan digunakan untuk membayar uang muka rumah dalam satu tahun.

Walaupun secara pribadi Anda merasa nyaman dengan fluktuasi pasar, uang tersebut memiliki tujuan dan batas waktu yang jelas.

Situasinya berbeda dengan uang untuk dana pensiun yang baru akan digunakan 20 tahun lagi.

Jadi jangan menentukan profil risiko tanpa melihat untuk apa uang tersebut digunakan.

3. Perhatikan jangka waktu

Jangka waktu memberikan ruang untuk menghadapi fluktuasi.

Dalam jangka pendek, penurunan pasar dapat menjadi masalah karena kita mungkin tidak punya cukup waktu untuk menunggu pemulihan.

Dalam jangka panjang, investor memiliki lebih banyak waktu untuk menghadapi naik turunnya pasar.

Namun, jangka panjang bukan berarti risiko menjadi tidak ada.

Fluktuasi tetap ada. Yang berubah adalah kemampuan kita untuk menghadapi fluktuasi tersebut.

4. Bedakan toleransi dan kemampuan risiko

Ini bagian yang sering terlewat.

Toleransi risiko berkaitan dengan kenyamanan psikologis.

Seberapa nyaman Anda melihat nilai investasi naik dan turun?

Sedangkan kemampuan mengambil risiko berkaitan dengan kondisi nyata.

Seberapa besar kerugian yang secara finansial masih bisa Anda tanggung tanpa mengganggu tujuan?

Contohnya, seseorang mungkin sangat nyaman menghadapi penurunan pasar, tetapi uang yang dimilikinya akan digunakan untuk biaya pendidikan anak dalam dua tahun.

Secara psikologis dia mungkin agresif.

Secara finansial, belum tentu.

5. Jangan menentukan profil risiko dari hasil kuesioner saja

Kuesioner profil risiko bisa menjadi alat bantu.

Tetapi jangan menganggap hasilnya sebagai keputusan investasi final.

Jawaban seseorang bisa berubah tergantung kondisi pasar, kondisi keuangan, pengalaman, dan tujuan investasi.

Yang lebih penting adalah memahami alasan di balik profil tersebut.

Gunakan kuesioner sebagai titik awal untuk berdiskusi, bukan sebagai pengganti proses berpikir.

Profil risiko bukan perlombaan

Tidak ada penghargaan untuk investor yang paling agresif.

Profil konservatif bukan berarti lebih buruk.

Profil agresif juga bukan berarti lebih pintar.

Yang penting adalah apakah strategi investasi yang dipilih sesuai dengan tujuan, kemampuan, dan kondisi Anda.

Portofolio yang terlalu agresif dapat membuat investor sulit tidur ketika pasar turun.

Sebaliknya, portofolio yang terlalu konservatif mungkin membuat tujuan jangka panjang sulit tercapai.

Keduanya sama-sama perlu dievaluasi.

Lima pertanyaan sebelum memilih investasi

Sebelum membeli sebuah instrumen, coba jawab:

  1. Apa tujuan investasi saya?
  2. Kapan uang ini akan digunakan?
  3. Apakah kondisi keuangan saya sudah cukup aman?
  4. Seberapa besar penurunan yang secara finansial bisa saya tanggung?
  5. Apakah saya benar-benar mampu bertahan dengan strategi ini ketika pasar turun?

Pertanyaan terakhir sangat penting.

Karena profil risiko bukan hanya tentang bagaimana kita merasa ketika pasar sedang naik.

Profil risiko lebih terlihat ketika pasar sedang turun.

Penutup

Menentukan profil risiko bukan tentang mencari label yang paling cocok.

Tujuannya adalah memastikan bahwa strategi investasi yang kita pilih masih bisa dijalankan ketika kondisi tidak sesuai harapan.

Investasi yang baik bukan hanya menghasilkan potensi keuntungan.

Investasi yang baik juga membuat kita mampu bertahan menjalankan rencana dalam jangka panjang.

Kenali kemampuan Anda, pahami tujuan Anda, lalu pilih risiko yang memang bisa Anda tanggung.